Ruang Bincang Energi (RuBEn) #22 kembali hadir membawa diskusi yang relevan dan visioner bagi masa depan energi Indonesia. Dengan mengusung tema “Advancing Waste Utilization to Drive Circular Economy and Clean Energy Innovation,” sesi ini mengeksplorasi bagaimana sampah dapat bergeser dari sekadar beban lingkungan menjadi sumber daya yang mampu menciptakan nilai baru, peluang ekonomi, dan energi bersih yang mendukung transisi menuju masa depan rendah karbon. Event ini diselenggarakan pada hari Minggu, 30 November 2025 bertempat di MULA by Galeria, Cilandak, Jakarta Selatan.

Acara ini dibuka oleh Founder Bincang Energi, Muhamad Fariz Failaka, yang menyampaikan bahwa isu sampah merupakan tantangan besar sekaligus kesempatan bagi Indonesia. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa tema RuBEn #22 bukan sekadar topik diskusi, melainkan panggilan tindakan bagi seluruh pihak untuk melihat sampah sebagai potensi yang dapat dikelola secara inovatif dan kolaboratif.
Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki sumber daya limbah yang sangat besar—baik biomassa, sampah organik, maupun residu rumah tangga—yang apabila dikelola dengan teknologi dan inovasi dapat menjadi penggerak transformasi menuju ekonomi rendah karbon.

Fariz juga menegaskan komitmen Bincang Energi sejak awal berdiri sebagai platform dan komunitas yang menjembatani pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. Percepatan transisi energi, menurutnya, tidak mungkin dilakukan pemerintah seorang diri; masyarakat dan komunitas memiliki peran aktif sebagai agen perubahan. Ia berharap diskusi ini tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi langkah nyata dalam bentuk riset, proyek komunitas, hingga inovasi teknologi yang mampu mengubah sampah menjadi nilai dan energi masa depan.

Setelah sambutan pembuka tersebut, RuBEn #22 menghadirkan tiga narasumber dengan keahlian yang saling melengkapi—mulai dari rantai pasok bioenergi, teknologi waste-to-energy, hingga digitalisasi sistem persampahan:

Diskusi dipandu oleh Cinthia Karani, seorang TV Host, Professional MC, Speaker, Public Relations Practitioner, dan Miss Earth Indonesia 2019, yang membawa dinamika percakapan menjadi hangat, informatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Melalui kombinasi perspektif praktisi industri, teknolog, dan inovator startup persampahan, Ruang Bincang Energi #22 menjadi wadah penting untuk menggali ide, memperkuat kolaborasi, dan mempercepat langkah menuju masa depan energi Indonesia yang lebih bersih, sirkular, dan berkelanjutan.

Setelah sambutan pembuka tersebut, sesi diskusi berlanjut dengan paparan dan talkshow dari para narasumber yang memberikan perspektif komprehensif dari sudut pandang industri energi, teknologi waste-to-energy, hingga inovasi persampahan berbasis digital.

Pada sesi pemaparan pertama, Akhmad Kunio Fadlullah Pratopo dari PLN EPI menjelaskan peran strategis PLN dalam membangun ekosistem bioenergi nasional yang efisien dan inklusif. Salah satu tantangan terbesar dalam pemanfaatan biomassa adalah sifatnya yang tersebar dalam volume kecil, sehingga masyarakat sering tidak tahu harus mengirimkannya ke mana, sementara pembangkit listrik (PLTU) memiliki persyaratan minimal volume pengiriman, seperti 6–8 ton per sekali kirim. Untuk menjawab persoalan tersebut, PLN mengembangkan sebuah mekanisme terstruktur melalui sistem hub dan subhub. Subhub berfungsi sebagai terminal awal bagi biomassa skala kecil, bahkan cukup menggunakan lahan kosong tempat masyarakat mengumpulkan limbah organik atau residu biomassa. Dari subhub, material dikirimkan ke hub berkapasitas lebih besar untuk kemudian diolah dan diteruskan ke pembangkit. Sistem ini membentuk pola seperti “spider web” yang mampu menjaring potensi biomassa dari berbagai wilayah, sekaligus memberikan kepastian arah distribusi bagi masyarakat. Konsep ini menonjol karena membutuhkan investasi rendah namun memberikan dampak besar dalam mendorong ekonomi sirkular.

Lebih lanjut, Kunio memaparkan bahwa PLN juga tengah mengeksplorasi pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau POME (Palm Oil Mill Effluent), yang jumlahnya mencapai sekitar 60% dari total limbah pabrik kelapa sawit. Selama ini POME kurang dimanfaatkan, padahal memiliki potensi besar sebagai sumber biogas pengganti gas fosil pada PLTG. Meski masih dalam tahap eksplorasi berjenjang, inisiatif ini menunjukkan arah pengembangan bioenergi yang semakin luas. Adapun upaya yang sudah lebih matang adalah program co-firing biomassa, yaitu menggantikan 1–2% batubara dengan biomassa pada PLTU. Hasilnya menunjukkan performa pembangkit tetap optimal sambil menurunkan emisi dan mendorong penerapan ekonomi sirkular.

Kunio menutup paparannya dengan sorotan pada roadmap pemanfaatan biomassa, di mana pemerintah menargetkan penggunaan hingga 7 juta ton pada 2030. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan bioenergi bukan ditentukan oleh kelangkaan sumber biomassa, melainkan kemampuan membangun sistem logistik dan rantai pasok yang efisien, karena molekul biomassa itu sendiri relatif mudah didapat dan tidak terlalu mahal. Kematangan ekosistem ini diyakini menjadi kunci untuk mendorong transisi energi bersih berbasis sumber daya lokal.

Dalam closing statement-nya, Akhmad Kunio menyampaikan optimisme bahwa pemanfaatan bioenergi—termasuk energi dari sampah—akan semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat. Ia menekankan bahwa bioenergi bukanlah domain eksklusif PLN atau pelaku industri tertentu; justru seluruh lapisan masyarakat memiliki peran dalam membangun ekosistem energi hijau. Menurutnya, diskusi yang berlangsung sangat konvergen dan kondusif, memperlihatkan semangat dan potensi besar dari para peserta untuk ikut berkontribusi.

Kunio kemudian menguatkan pesannya melalui sebuah pernyataan yang mencerminkan semangat gerakan kolektif:

Setiap orang bisa menjadi local hero dalam bioenergi—dari langkah kecil seperti memilah sampah, kita bisa memberi dampak besar menuju energi yang lebih hijau untuk Indonesia (Akhmad Kunio)

Dengan menekankan bahwa langkah kecil pun dapat berdampak besar, Kunio mendorong masyarakat untuk memulai dari tindakan sederhana, seperti mengolah sampah organik atau mendukung program circular economy. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa dari Sabang sampai Merauke, setiap individu mampu menjadi bagian dari transformasi energi nasional, selama semua pihak mau bergandengan tangan menuju masa depan yang lebih hijau.

Narasumber kedua, Akbar Pandu Wijaksono, memberikan paparan komprehensif mengenai perkembangan teknologi waste-to-energy (WTE) atau PLTSa di Indonesia. Ia mengawali dengan menjelaskan perubahan terminologi dari PLTSa menjadi PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) untuk menggeser fokus publik dari “pembangkit listrik” menjadi “pengolahan sampah”. Hal ini penting karena jika PLTSa terus dibandingkan dengan pembangkit energi primer seperti batubara atau gas, maka secara keekonomian jelas tidak kompetitif—padahal tujuan utama WTE adalah penanganan sampah, bukan sekadar produksi listrik. Pandu kemudian menjabarkan tiga teknologi utama WTE, yaitu anaerobic digestion/landfill-to-energy, pyrolysis, dan incinerator. Menurutnya, incinerator adalah teknologi yang paling sesuai dengan karakter sampah Indonesia yang bercampur dan memiliki kadar air tinggi. Pyrolysis dinilai kurang cocok karena hanya efektif untuk plastik homogen dengan tingkat kekeringan tertentu. Incinerator mampu mereduksi volume sampah hingga 85–95%, meski efisiensi konversi energi di Indonesia diperkirakan hanya 10–14% akibat rendahnya nilai kalor sampah, jauh lebih rendah dari Jepang yang mencapai 27%.

Selain aspek teknis, Akbar menguraikan perkembangan kebijakan PLTSa dalam 10 tahun terakhir. Sejak tragedi longsornya TPA Leuwigajah, isu pengelolaan sampah terus menguat hingga akhirnya PLTSa ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2017 melalui Perpres 35/2018. Meski demikian, dalam tujuh tahun terakhir hanya dua PLTSa yang berdiri: Surakarta dan Bantar Gebang (pilot project). Hambatan utamanya mencakup ketidakpastian kontrak, keekonomian proyek, dan kompleksitas perizinan. Namun, terbitnya regulasi terbaru (Permen 109/2024) membawa angin segar karena PLN kini diwajibkan membeli seluruh listrik PLTSa dengan tarif 20 ¢/kWh selama 30 tahun—naik 50% dibanding tarif sebelumnya. Pemerintah pusat juga mengambil alih tanggung jawab tipping fee yang sebelumnya membebani APBD. Di sisi teknis operasional, Pandu memaparkan alur proses PLTSa Bantar Gebang secara detail, mulai dari penurunan kadar air dengan sistem FIFO selama 3–5 hari, pembakaran berkesinambungan tanpa bahan bakar tambahan, hingga pengolahan emisi. Ia menyoroti bahwa 61% sampah Indonesia masih tidak terkelola dan banyak daerah masih menggunakan open dumping, meskipun praktik itu telah dilarang sejak 2010. Emisi GRK dari landfill di Jakarta bahkan dapat mencapai 2 juta ton CO₂e per tahun, sehingga WTE menjadi bagian penting strategi mitigasi.

Akbar mengakhiri sesi dengan menempatkan persoalan sampah dalam konteks besar yang penuh kompleksitas. Ia menjelaskan bahwa teknologi waste-to-energy hanyalah salah satu jalan, bukan satu-satunya, dan bahwa perjalanan Indonesia menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih baik memang tidak dapat berlangsung secara instan. Ada dua dimensi penting yang masih perlu diperkuat: kelembagaan dan regulasi di satu sisi, serta aspek teknis dan keekonomian di sisi lainnya. Akbar menyadari bahwa perkembangan WTE selama ini mungkin terlihat lambat bagi sebagian orang, tetapi ia percaya bahwa progresnya tetap mengarah pada perbaikan. Esensi pesannya dirumuskan melalui sebuah quote yang menegaskan pentingnya kesadaran kolektif:

Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama—bukan tentang saling menunjuk, tetapi tentang menjalankan peran terbaik kita demi perbaikan sistem secara bertahap dan berkelanjutan (Akbar Pandu)

Menurutnya, perubahan tidak bisa dilakukan secara ekstrem, seperti langsung melarang produk tertentu tanpa melihat kesiapan pasar dan dampak ekonominya. Transisi harus dilakukan secara bertahap dan melibatkan kontribusi nyata dari masyarakat, pemerintah, dan industri. Ia menutup dengan keyakinan bahwa dengan partisipasi setiap pihak, kondisi pengelolaan sampah Indonesia akan terus membaik.

Pada sesi terakhir, Janice Alberta dari Sirsak menghadirkan perspektif yang berbeda dengan menyoroti peran digitalisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam membangun ekonomi sirkular berbasis sampah kemasan. Ia mengawali dengan menjelaskan bahwa Sirsak adalah green tech startup yang berfokus pada transformasi sistem persampahan dari hulu ke hilir. Berdiri sejak 2023, Sirsak bertujuan mengelola 100.000 ton sampah kemasan hingga 2030 sekaligus memberikan jaminan sosial bagi 5.000 pekerja sektor persampahan. Janice menekankan bahwa masalah sampah di Indonesia sangat kompleks; bukan hanya soal perilaku masyarakat yang belum memilah sampah, tetapi juga keterbatasan infrastruktur pengumpulan, logistik, supply chain, dan ketidakpastian pasar daur ulang. Karena itu, perubahan sistemik hanya dapat dicapai melalui kolaborasi multipihak.

Sirsak bekerja bersama produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR), mengedukasi konsumen dan sekolah, menguatkan peran bank sampah, melibatkan pemulung serta lapak, hingga memastikan material diproses dengan benar oleh industri daur ulang. Salah satu inovasi utamanya adalah fokus pada Multi-Layer Plastic (MLP)—kemasan plastik berlapis-lapis seperti sachet dan snack yang volumenya sangat besar namun tidak memiliki nilai jual sehingga jarang dikumpulkan pemulung. MLP juga sulit didaur ulang karena terdiri dari berbagai lapisan material. Melalui insentif pengumpulan dan teknologi pemilahan, Sirsak berhasil mengumpulkan 30 ton MLP dalam satu tahun untuk diolah menjadi biji plastik dan produk baru yang bernilai ekonomis. Selain inovasi pengelolaan material, Sirsak mengembangkan aplikasi SPoP (Sirsak Poin of Purcahase) untuk digitalisasi pencatatan bank sampah yang sebelumnya manual dan rentan kesalahan, serta STrace (Sirsak Traceability) Dashboard yang menampilkan data pergerakan sampah dari sumber hingga titik daur ulang—memudahkan produsen memenuhi kewajiban pelaporan EPR. Janice menegaskan bahwa data menjadi kunci untuk merancang kebijakan pengurangan sampah yang efektif dan terukur.

Dalam penutupnya, Janice menegaskan bahwa diskusi hari ini memperlihatkan masih adanya banyak gap dalam ekosistem pengelolaan sampah, khususnya dalam upaya mengubahnya menjadi nilai ekonomi maupun energi bersih. Ia menyoroti bahwa tantangan ini tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja; melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor—UMKM, perusahaan, pemerintah, komunitas, dan terutama mahasiswa sebagai sumber inovasi baru. Janice juga mengapresiasi ide-ide kreatif yang muncul dari BEn 3-Minute Idea Competition, yang menurutnya dapat menjadi fondasi kolaborasi yang lebih besar.

Janice kemudian merangkum pesan utamanya melalui sebuah refleksi kuat:

Masalah sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja—kita semua harus bergerak, mulai dari langkah sesederhana memilah sampah dari sumbernya (Janice Alberta)

Baginya, langkah paling sederhana seperti memilah sampah adalah titik awal yang memiliki dampak signifikan. Janice menutup dengan ajakan terbuka untuk berkolaborasi, membangun solusi nyata, dan memperluas dampak melalui kerja bersama.

 


Materi RuBEn #22

Materi Event Lainnya

 


Dokumentasi

 

EPISODE LAINNYA
Tagged: , , , ,
FOLLOW AND SUBSCRIBE
Episodes

RuBEn #22 | Advancing Waste Utilization to Drive Circular Economy and Clean Energy Innovation

oleh Bincang Energi time to read: 7 min
0